🌸 Ikut Nominasi Perempuan Inspiratif Hari Kartini 2026, Klik Disini!

GOWPurwakarta – Program Sekolah Perempuan Kreatif dan Mandiri (SEKAR GOW) Kabupaten Purwakarta memasuki pertemuan kelima, Sabtu, 22 Agustus 2026. Para peserta tetap antusias mengikuti pembelajaran yang kali ini mengangkat tiga persoalan penting dalam kehidupan sehari-hari: kesiapsiagaan menghadapi bencana, pengelolaan air bersih, dan ketangguhan keluarga.

Kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur’an serta pembelajaran makharijul huruf yang dipandu Ibu Nurdiatuzahro, M.Pd., dan Ibu Nuraini Haris. Pembukaan tersebut menjadi bagian dari upaya SEKAR GOW dalam memadukan penguatan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai keagamaan.

Rangkaian pembelajaran dipandu oleh Ibu Ida Ayu Erna Faridawaty sebagai pembawa acara. Tiga materi kemudian disampaikan oleh para fasilitator yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidang masing-masing.

Materi mengenai “Keluarga Siaga Bencana” disampaikan Ibu R. Nia Ratnawati. Peserta diajak memahami bahwa bencana memang tidak selalu dapat diperkirakan, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi melalui kesiapan setiap anggota keluarga.

Kesiapsiagaan tersebut bertumpu pada tiga pijakan utama, yakni prabencana, saat bencana, dan pascabencana. Pada tahap prabencana, keluarga perlu mengenali risiko di lingkungan sekitar, menata rumah agar lebih aman, menentukan jalur evakuasi, serta menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, makanan, air minum, obat-obatan, dan perlengkapan darurat.

Ketika bencana terjadi, setiap anggota keluarga perlu berusaha tetap tenang, menyelamatkan diri, dan melakukan evakuasi mandiri sesuai kondisi. Setelah bencana berlalu, langkah berikutnya ialah memastikan seluruh anggota keluarga berada dalam keadaan aman, memulihkan kondisi fisik dan mental, serta mengikuti informasi dari sumber resmi.

Melalui materi tersebut, peserta juga memperoleh pengetahuan praktis menghadapi gempa bumi dan kebakaran. Kesiapsiagaan ditekankan sebagai kebiasaan yang dibangun dari rumah, bukan sesuatu yang baru dipikirkan ketika keadaan darurat datang.

Selanjutnya materi, “Air Bersih Sumber Kehidupan”, disampaikan Ibu Dr. Etty Jumiati, M.Pd. Peserta diajak memahami pentingnya menjaga ketersediaan dan kualitas air bagi kehidupan keluarga serta lingkungan.

Air yang tampak melimpah belum tentu seluruhnya aman dan dapat langsung digunakan. Pencemaran dari limbah rumah tangga, kegiatan industri, dan kerusakan lingkungan dapat menurunkan kualitas sumber air.

Karena itu, para peserta diajak menerapkan tiga langkah sederhana: menjaga, mengolah, dan menghemat air. Menjaga dilakukan dengan tidak membuang sampah atau limbah ke saluran air. Mengolah dapat dilakukan melalui penyaringan sederhana sesuai kebutuhan, sedangkan menghemat dimulai dengan menggunakan air secukupnya serta memanfaatkan kembali air yang masih layak untuk keperluan lain.

Kebiasaan kecil seperti menutup keran saat tidak digunakan, memperbaiki kebocoran, menggunakan air secukupnya ketika mencuci, serta menjaga kebersihan saluran air dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan bersama-sama.

Para peserta didorong menjadi “pahlawan air” di lingkungan keluarga. Gerakan menjaga air dapat dimulai dari diri sendiri dan rumah masing-masing, kemudian ditularkan kepada anak-anak serta masyarakat sekitar.

Kemudian materi mengenai “Membangun Keluarga Tangguh” disampaikan Ibu Tini Rostini, S.Pd. Dalam sesi ini, peserta diajak menyadari bahwa setiap keluarga memiliki persoalan. Masalah sering muncul akibat kesenjangan antara harapan yang diinginkan dengan kenyataan yang sedang dihadapi.

Tekanan ekonomi, komunikasi yang tidak berjalan baik, perbedaan pola pengasuhan, campur tangan pihak lain, dan persoalan anak usia remaja dapat menjadi sumber konflik. Persoalan yang terus dipendam tanpa dicari jalan keluarnya berisiko berkembang menjadi konflik yang semakin berat.

Keluarga tangguh bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan keluarga yang mampu mengenali persoalan, mengelola stres, membangun komunikasi sehat, dan mencari penyelesaian tanpa kekerasan. Peserta juga diingatkan bahwa kekerasan fisik, psikis, seksual, maupun penelantaran tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam rumah tangga.

Pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan keluarga. Peserta didorong mengambil tindakan terhadap hal-hal yang dapat diubah, melihat masalah dari sudut pandang yang lebih jernih, menerima kenyataan yang tidak dapat dihindari, serta membicarakan beban kepada orang yang dipercaya.

Ketua GOW Kabupaten Purwakarta, Ibu Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., mengatakan bahwa ketiga materi tersebut dipilih karena sangat dekat dengan kehidupan perempuan dan keluarga. Pengetahuan mengenai bencana, air bersih, dan penyelesaian masalah rumah tangga diharapkan membantu peserta mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai keadaan.

Menurutnya, perempuan memiliki peran penting dalam memastikan keluarganya terlindungi, sehat, dan mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan. Perempuan yang memiliki ilmu, keterampilan, karakter kuat, dan kepercayaan diri akan memberikan pengaruh positif bagi keluarga serta lingkungan sekitarnya.

Melalui rangkaian 12 pertemuan, SEKAR GOW terus membawa semangat “Perempuan Berdaya dan Bermakna”. Pada pertemuan kelima ini, ketangguhan keluarga diterjemahkan melalui langkah-langkah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: menyiapkan tas siaga, menjaga setiap tetes air, mengelola stres, dan menyelesaikan masalah dengan komunikasi yang sehat.

Dari rumah yang siaga, bijak, dan penuh kepedulian, diharapkan tumbuh keluarga-keluarga Purwakarta yang semakin tangguh, bahagia, dan istimewa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *